Waspada Jebakan Monkey Business Janda Bolong

0
257

apakah yang dimaksud monkey business

Istilah Monkey Business atau bisnis monyet mulai merebak lagi akhir akhir ini di media sosial. Terutama setelah viralnya tanaman dengan harga fantastis yang memiliki nama Janda Bolong.

Yupz, tanaman merambat dengan bentuk daun bolong bolong itu memang sedang menjadi bahan perbincangan di jagat maya setelah beberapa media besar memberitakannya telah terjual dengan harga ratusan juta rupiah.

Cukup fantastis memang. Tanaman rambat yg sebelumnya tidak ada harganya itu kini mendadak menjadi incaran banyak orang karena adanya kabar tentang harganya yang mencapai ratusan juta.

Bahkan ada beberapa orang yg sampai mencari tanaman tersebut dengan masuk hutan, lalu memamerkan hasil temuannya itu melalui media sosial.

Lalu, benarkah tanaman itu layak dihargai hingga ratusan juta rupiah? Adakah khasiat luar biasa dari tanaman tersebut yg membuatnya spesial? Ataukah hanya sekedar dijadikan komoditi dari Monkey Business oleh pihak tertentu?

Untuk menjawabnya, mari kita pahami dulu tentang apa itu Monkey Business.

Apakah yang dimaksud Monkey Business

Monkey Business atau dalam Bahasa Indonesia disebut bisnis monyet bukanlah bisnis yang melibatkan monyet secara langsung.

Istilah itu hanya untuk menggambarkan bagaimana tabiat seekor monyet jika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia akan segera kabur.

Yang penting keruk keuntungan sebanyak banyaknya, biarin aja orang lain rugi, ndak urus. Udah dapet hasilnya, kabur. Itulah monkey business, bisnis kotor yang penuh dengan intrik tipuan.

Untuk lebih memahami apa itu Monkey Business, simak kisah perumpamaan berikut ini:

Suatu hari ada seorang kaya raya bernama John Doe dan seorang asistennya mendatangi sebuah desa yang kebetulan banyak terdapat Monyet liar di sekitar perkebunan warga.

Si John Doe ini kemudian mengumumkan akan membeli monyet dengan harga 50.000 per ekornya. Warga yg menganggap monyet di perkebunannya adalah hama dan selama ini gak ada harganya, akhirnya tertarik untuk mulai menangkapi monyet tersebut.

Puluhan hingga ratusan monyet pun berhasil ditangkap dan dijual kepada si kaya raya John Doe.

Namun karena sering diburu, akhirnya keberadaan monyet monyet itu semakin jarang dan sulit didapat. Warga pun kembali ke aktifitas biasanya dengan berkebun lagi.

Si John Doe lalu mengumumkan lagi bahwa kini harga seekor monyet sudah naik lagi menjadi 100.000. Warga pun bagai dapat angin segar, mulai gencar memburu monyet lagi karena kepincut dengan harganya yg naik 2 kali lipat.

Semakin sulit di dapat, warga pun kembali lagi ke aktifitas biasanya denagn berkebun. Kejadian terus berulang, si kaya John Doe lalu mengumumkan kembali akan membayar 150.000, kemudian 500.000 per ekor.

Karena keberadaan monyet memang sangat sulit di dapat, warga pun juga sangat sulit untuk mencari dan mendapatkannya.

Dan dimulailah konspirasi si kaya John Doe. Dia bilang mau pergi ke kota karena ada urusan bisnis, sementara itu untuk urusan monyet diserahkannya kepada Asistennya yg ditinggal di desa itu.

Suatu ketika, si Asisten ini menawarkan kepada warga desa untuk membeli monyet monyet di dalam kurungan yang selama ini ditangkap dengan harga 350.000 per ekor.

Ia berdalih, nanti warga bisa menjual kembali monyet monyet itu ke John Doe dengan harga 500.000 kalo dia sudah kembali ke desa itu.

Tergiur dengan keuntungan singkat, warga pun berbondong bondong membeli monyet si Asisten. Ada yg jual kebunnya, ada yg pinjam ke bank, hingga ada yang menggadaikan kendaraannya demi membeli monyet dengan harapan bisa dapat keuntungan berlipat.

Namun apa daya, setelah monyet itu terjual habis, si Asisten dan si John Doe gak pernah nongol lagi dan entah tak diketahui keberadaannya. Tinggalah monyet monyet dan warga yag ditinggalkan seperti sebelumnya.

Nah, itulah perumpamaan Monkey Business alias bisnis monyet. Hanya sekedar konspirasi penuh muslihat untuk memperdaya korban.

Setelah untung, korban ditinggalkan begitu saja. Persis sama halnya dengan money game yang silih berganti bermunculan, hanya beda nama saja.

Kalo anda tinggal di Indonesia, harusnya anda sudah familiar dengan beberapa contoh Monkey Business yg sempet viral sebelum fenomena Janda Bolong ini.

Sebut aja tanaman Gelombang Cinta, batu akik, ikan louhan, burung love bird, dan semacamnya. Bagaimana nasib barang barang tersebut sekarang?

Jika sudah demikian, masihkah anda tertarik untuk terlibat dalam fenomena Janda Bolong kali ini? Maukah anda mengeluarkan jutaan rupiah untuk sekedar mendapatkan tanaman ini dan berharap akan ada yg membeli kembali dengan harga lebih mahal?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here